Adversity Quotient

Adversity Quotient

It is easy enough to be pleasant, When life flows by like a song. But the man worth while is the one who can smile, when everything goes dead wrong. For the test of the heart is troubled, And it always comes with the years. And the smiles that is worth the praises of earth is the smile that shines through tears.

(Ella Wheeler Wilcox )

 

Konsep Inteligensi

Binet dan Simon (1905) :

  • Kapasitas umum untuk memahami dan menalar sesuatu, yang dapat diterapkan dalam berbagai cara dan situasi.

David Wechsler (1958) :

  • Himpunan kapasitas untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional dan berhubungan dengan lingkungannya secara efektif.

 

Secara umum, hingga saat ini kita mengenal alat tes IQ yang dalam penerapannya memakai konsep Binet (tes Binet) atau Wechsler (tes WISC, WAIS) untuk berbagai keperluan seperti : seleksi masuk sekolah, seleksi kerja, pemilihan karir, dlsb.

 

Keterbatasan IQ

IQ terutama sangat membantu dalam hal berpikir rasional dan kesimpulan logis. Justru karena hal itu pula, IQ memiliki keterbatasan.

 

Komponen-komponen Tes IQ

Adapun yang diukur oleh alat tes IQ ini biasanya mencakup :

  • Pemahaman verbal (verbal comprehension)
  • Logika berpikir (logical thinking)
  • Kefasihan angka (word fluency)
  • Angka (number)
  • Persepsi tiga dimensi (spacial)
  • Ingatan (memory)
  • Kecepatan perseptual (perceptual speed)
  • Penalaran (reasoning)
  • Berpikir konvergen (convergent thinking)

 

Faktor Penentu Inteligensi

Faktor penentu inteligensi : genetik dan lingkungan

Penelitian Bouchard dan McGue (1981) menunjukkan korelasi IQ saudara sekandung jika diasuh terpisah adalah 0.24 tetapi jika diasuh bersama menjadi 0.47

 

Konsep IQ dan EQ

Charles Spearman mengatakan ada faktor inteligensi umum (faktor g) yang berperan pada inteligensi seseorang dimana termasuk di dalamnya adalah kemampuan verbal yang erat hubungannya dengan kemampuan sosial seseorang.   Thorndike, psikolog terkenal mulai memakai istilah Sosial Intelligence dalam konsep inteligensinya

Paradigma inteligensi yang terbaru diperkenalkan oleh Stenberg (1982) dimana menurutnya alat tes IQ harus bisa mengukur :

.Kemampuan belajar

  • .Kemampuan menalar abstrak
  • .Kemampuan beradaptasi
  • .Kemampuan memotivasi

Akhirnya, alat tes IQ yang terbaru pun mulai mencoba mengukur keempat komponen ini. Namun, hanya mampu mengukur faktor 1 dan 2. Faktor 3 dan 4 tetap tak terukur. Inilah yang mendorong lahirnya pengukuran inteligensi berdimensi lain : inteligensi yang emosional sifatnya.

 

Kisah Sukses Abraham Lincoln

(Presiden AS)

Riwayat Sukses dan Gagal Abraham Lincoln

  • Usia 22 : Gagal dalam bisnis
  • Usia 23 : Dikalahkan di legislatif
  • Usia 24 : Kalah dalam pemilihan Buenos
  • Usia 26 : Kematian kekasihnya
  • Usia 27 : Goncangan mental
  • Usia 29 : Kalah sebagai pembicara
  • Usia 31 : Kalah dalam pemilihan
  • Usia 34 : Kalah di Kongres
  • Usia 37 : Terpilih di Kongres
  • Usia 39 : Kalah di Kongres
  • Usia 46 : Kalah di Senat
  • Usia 47 : Kalah sebagai wakil presiden
  • Usia 49 : Kalah di Senat
  • Usia 51 : Terpilih sbg Presiden AS!

Leave a Reply