PSYCHOLOGY OF TRAINING

PSYCHOLOGY OF TRAINING

PSYCHOLOGY OF  TRAINING

Banyak belajar, banyak lupa Sedikit belajar, sedikit lupa Jadiuntuk apa belajar?

(Sebuah catatan anak kost)

 

Menerapkan Psikologi Motivasi dalam Training

Motivasi belajar yang tinggi merupakan faktor penting untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak trainer yang menghabiskan cukup banyak waktu selama sesi-sesi dalam pelatihan untuk memotivasi para pesertanya.

Berdasarkan konsep motivasi dari para pelopor studi motivasi seperti Abraham Maslow atau McClelland dapat diterapkan dalam pelatihan bahwa:

  • Setiap peserta pasti memiliki alasan/motif yang sangat personal yang membuatnya tertarik untuk mengikuti peserta (sekalipun motif tersebut adalah datang karena terpaksa)
  • Trainer perlu mengidentifikasi semua motif implisit maupun eksplisit yang dimiliki oleh peserta
  • Trainer perlu mengupayakan berbagai macam pendekatan, metode serta perlakuan yang dapat memastikan sebagian besar motif peserta dapat dipenuhi

 

3 cara utama dalam memotivasi orang lain:

Approach

Avoid

Attack

 

POSITIVE MOTIVATION

Approach

Hal ini dapat dilakukan oleh Trainer dengan:

  • Menumbuhkembangkan
  • Mendukung
  • Memberikan apresiasi (lisan maupun dalam materi)
  • Mendorong
  • Menginspirasikan
  • Mengajak

 

NEGATIVE MOTIVATION

Avoid

Hal ini dapat dilakukan oleh Trainer dengan:

  • Menghukum
  • Membentak
  • Memarahi
  • Mengabaikan
  • Mengisolasikan
  • Mengkritik
  • Menolak

Cara ini sebaiknya dihindari mengingat akibat-akibat negatif yang mungkin ditimbulkannya.

 

DESTRUCTIVE MOTIVATION

Attack

Hal ini dapat dilakukan oleh Trainer dengan :

  • Memukul
  • Memaksa
  • Menakut-nakuti

 

Cara ini tidak saja banyak menentang prinsip-prinsip belajar yang bebas dan dewasa namun lebih banyak berdampak buruk terhadap peserta.

Proses Belajar Andragogi VS Pedagogi

Malcolm Knowles (1972) membedakan antara proses belajar orang dewasa (andragogi) dengan proses belajar anak-anak (pedagogi).

ANDRAGOGI adalah konsep mengenai cara belajar yang paling kondusif bagi orang dewasa untuk belajar.

Dimana letak perbedaan utama antara cara belajar Andragogi dengan Pedagogi?

 

Karakteristik Proses Belajar Andragogi

1.Belajar adalah proses seumur hidup

2.Orang dewasa pada prinsipnya ingin lebih bertanggungjawab dalam proses belajarnya

3.Transfer ilmu berlangsung dengan baik dalam lingkungan dimana peserta aktif dilibatkan

4.Suasana informal membantu proses belajar

5.Contoh-contoh yang relevan dengan pengalaman membantu proses pemahaman

6.Variasi stimulus membantu proses belajar khususnya dengan menerapkan proses NLP: visual, kinesthetic dan auditory

7.Peran pengajar hanyalah stimulator dan fasilitator dalam belajar

 

Bagaimana Mempraktekkan Proses Mengajar Andragogi

1.Jelaskan tujuan belajar (GOAL). Orang dewasa belajar dengan sangat baik jika mereka tahu mengapa mereka diajari sesuatu.

2.Libatkan peserta (INVOLVE). Orang dewasa harus bisa mengendalikan proses belajarnya dan ikut berperan aktif di dalamnya.

3.Variasikan metode (VARIETY). Cara belajar setiap orang berbeda-beda, karena itu upayakan beragam variasi pembelajaran untuk mencapai hasil training yang optimal. Gunakan teknik NLP.

4.Integrasikan pengalaman (INTEGRATE). Peserta bisa sulit diajar karena pengalamannya yang luas. Tetapi jika yang diajarkan bisa dihubungkan dengan pengalamannya, mereka akan menyerap lebih banyak dan lebih cepat.

5.Keuntungan Sukses (REWARD). Peserta akan suka mempelajari sesuatu yang bisa memberikan keuntungan atau peluang sukses yang semakin besar di masa depan.

 

Ingat Andragogi, Ingat G-I-V-I-R !

Mempraktekkan G-I-V-I-R :

Kasus :

Anda adalah trainer yang ingin mengajarkan prosedur ISO baru kepada para manajer menengah. (Permasalahan di sini, ISO merupakan materi yang ‘kering’, kurang diminati serta cenderung dipersepsi membebani kerja para manager). Bagaimana Anda menerapkan G-I-V-I-R ?

 

Menggabungkan Motivasi dengan Pembentukan Perilaku Positif

  • Afektif :
    • menguatkan/mengurangi affective dissonance
    • meningkatkan rasa nyaman, lega
  • Kognitif :
    • menjaga perhatian terfokus pada sesuatu yang bermakna dan menarik
    • meningkatkan pemahaman dan pengertian baru
    • membantu mengatasi masalah dan pembuatan keputusan
  • Konatif :
    • mendorong pencapaian tujuan personal
    • mengambil alih tanggung jawab pada kehidupan sendiri
    • mengurangi kekhawatiran dalam pencapaian tujuan
    • mengurangi ketergantungan pada orang lain

LIBATKAN PROSES MENGAJAR DENGAN OTAK KIRI DAN OTAK KANAN SECARA SEIMBANG UNTUK MEMPEROLEH HASIL TRAINING YANG OPTIMAL

TIPS :

Menstimulasi Otak Kiri Peserta :

Teka-teki, Konsep, Pemecahan Kasus, Latihan peragaan, Menulis, Membaca handout

Menstimulasi Otak Kanan Peserta :

Mendengarkan musik, Bagi pengalaman menyentuh, Bermain peran, Melukis, Games, bernyanyi bersama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *